Powered By Blogger

Entri Populer

Tampilkan postingan dengan label 7. people. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 7. people. Tampilkan semua postingan

Jumat, 08 Oktober 2010

Identifikasi Kewirausahaan

Wirausaha berasal dari kata wira dan usaha. Wira dapat berarti mulia, luhur, unggul, serta usaha berarti kemampuan melakukan usaha atas kekuatan sendiri. Jadi, wirausaha berarti manusia unggul dalam usaha atas kekuatan sendiri dan tidak bergantung pada orang lain. Menurut Arif F. Hadipranata, wirausaha adalah sosok pengambil risiko yang diperlukan untuk mengatur dan mengelola bisnis serta menerima keuntungan financial ataupun non uang. Drucker menilai wirausaha secara umum dalam arti jiwa atau nilai-nilai yang terkandung di dalamnya, seperti adanya keinginan untuk melakukan perubahan, dan sifat harus terhadap sesuatu yang baru. Kathleen mengemukakan bahwa wirausaha adalah orang yang mengatur, menjalankan, dan menanggung risiko bagi pekerjaan-pekerjaan yang dilakukannya dalam dunia usaha. Anwar Gozally mengartikan wirausaha sebagai seorang yang mengambil tanggung jawab untuk menciptakan atau memperkenalkan gagasan baru yang disebut innovasi. Mereka dapat berperan sebagai pencetus maupun penemu. Mereka merupakan pimpinan yang berupaya merealisasikan pemikiran menjadi kenyataan yang menguntungkan.

Inpres No. 5 tahun 1995 tentang Gerakan Nasional Memasyarakatkan dan Membudayakan kewirausahaan menjelaskan arti kewirausahaan. Kewirausahaan adalah semangat, sikap, perilaku, dan kemampuan seseorang dalam menangani usaha dan atau kegiatan yang mengarah kepada upaya mencari, menciptakan, menerapkan cara kerja, teknologi, dan produk baru dengan meningkatkan efisiensi dalam rangka memberikan pelayanan yang lebih baik atau memperoleh keuntungan yang lebih besar.
Kewirausahaan adalah kepribadian wirausaha. Kewirausahaan dapat diistilahkan dalam bahasa Inggris entrepreneur. Kepribadian unggul kewirausahaan adalah nilai-nilai watak usaha yang sangat tinggi. Wirausaha merupakan pejuang kemajuan yang mengabdikan diri kepada masyarakat dalam wujud dedikasi dan tekadnya atas kemampuan sendiri untuk membantu memenuhi kebutuhan masyarakat yang makin meningkat, memperluas kesempatan kerja, turut serta, dan berdaya upaya mengakhiri ketergantungan pada luar negeri dan dalam melakukan fungsi-fungsinya tersebut selalu tunduk pada hukum dan lingkungannya.
Pendidikan kewirausahaan perlu diberikan sejak diri. Kewirausahaan tidak muncul secara mendadak, akan tetapi melalui proses pembelajaran. Perlunya pendidikan kewirausahaan bagi setiap orang antara lain sebagai berikut :
a. Tenaga-tenaga wirausaha mempunyai kemampuan luar biasa. Oleh karena itu, sudah sewajarnya memberikan kesempatan kepada setiap manusia memiliki kepribadian wirausaha. Ilmu kewirausahaan dapat dibentuk, dilatih, dididik, dikembangkan dan ditingkatkan jumlahnya.
b. Seorang yang berjiwa wirausaha, diri sendirilah yang menjadikan seorang manusia yang berkepribadian dan berwatak unggul, memberikan kemampuan untuk membersihkan sikap mental negatif, serta meningkatkan daya saing dan daya juang untuk mencapai kemajuan.
c. Jiwa kewirausahaan merupakan salah satu bekal bagi seseorang dalam menjalani kehidupan.
d. Kewirausahaan adalah sumber peningkatan mutu kepribadian dan kemampuan usaha. Usaha penggalian kewirausahaan sangat mutlak diharapkan oleh setiap orang.
Ada beberapa manfaat yang dapat diperoleh oleh suatu masyarakat dan negara dengan adanya orang-orang yang berjiwa wira-usaha, antara lain sebagai berikut :
a. Sebagai generator dan sumber penciptaan serta perluasan kesempatan kerja.
b. Sebagai pelaksanaan pembangunan yang dapat dipercaya integritasnya dan berdedikasi memajukan lingkungannya.
c. Sebagai penolong orang lain agar orang lain mampu membantu dan menolong dirinya.
d. Sebagai pembayar pajak yang teratur.
e. Sebagai sumber tenaga manusia yang ideal.
Ciri-ciri wirausaha
Dalam rangka menjadi seorang wirausahawan yang tangguh, seseorang harus memiliki beberapa ciri tertentu antara lain sebagai berikut:
a. Memiliki keberanian untuk mengambil risiko dalam menjalankan usaha.
b. Memiliki daya kreasi, imajinasi dan kemampuan yang tinggi untuk menyesuaikan diri dengan keadaan.
c. Memiliki semangat dan kemauan untuk mengatasi kesulitan yang dihadapi.
d. Mengutamakan efisiensi dan penghematan penghematan biaya.
e. Memiliki kemampuan untuk memotivasi bawahan atau partner usaha agar mempunyai kemampuan tinggi.
f. Memiliki cara analisis yang tepat, sistematis dan metodologis.
g. Tidak konsumtif, selalu menanamkan kembali keuntungan yang diperoleh, baik untuk memperluas usaha yang sudah ada maupun menanamkannya pada usaha-usaha yang baru.
h. Memiliki kemampuan dalam menilai kesempatan yang ada serta membawa teknik-teknik baru dalam mengorganisasi usaha-usahanya secara tepat dan efisien.


http://perpustakaan-online.blogspot.com/2010/09/identifikasi-kewirausahaan.html

ENTERPRENEUR TAK TERBENTUK HANYA DARI PENGAJARAN

Pondok Cabe, 1/10/2010 (Kominfo-Newsroom) Enterpreneurship tidakbisa diciptakan hanya dengan cara-cara konvensional melalui metodepengajaran atau print memory. Melainkan, harus juga melalui metodepraktik yang disebut jalur DNA/Myielin atau massa memory.
Print memory hanya menghasilkan mahasiswa wacana, manusiaberpengetahuan. Padahal yang dibutuhkan adalah action, orang harusbertindak, ujar Prif Rhenald Kasali, Guru Besar Fakultas EkonomiUniversitas Indonesia, usai Seminar Nasional Fakultas Ekonomidengan Tema Memenangkan Persaingan di Era CAFTA, Jumat (1/10), diUniversitas Terbuka Convention Center (UTCC) Pondok Cabe,Tangerang.
Dalam kegiatan yang merupakan rangkaian Dies Natalies UT yangke-26 ini, Rhenald mengungkapkan kekhawatiran banyaknyaentrepreneur yang hanya basisnya pengatahuan. Berdasarkan kajian,jelasnya, tidak semua anak pengusaha menjadi pengusaha, karenaorangtuanya tidak pernah mengekspose pada krisis. Anak hanyadimanja, disekolahkan pada sekolah anak orang-orang kaya.
Kemudian, lanjutnya, anak tidak pernah dikasih modal untuk bukawarung. Mereka hanya akan menjadi orang yang berpengetahuan. Inisudah dibuktikan banyak anak konglemerat yang seperti itu,jelasnya.
Padahal, akan berbeda apabila anak seorang pengusaha dari kecilsudah disuruh jaga toko, pabrik, pesan barang, mencari order, jagarestoran, sehingga mengalami dimarahi oleh pelanggan. Ia berpeluangmenjadi pengusaha karena krisis yang dialami. Ia akan menghadapitantangan riil menggunakan otaknya sendiri. Tidak menggunakan otakorangtuanya, tidak selalu minta petunjuk, katanya.
Ditegaskan, jalur sekolah hanya jalur otak yang tidak akanmenghasilkan manusia entrepreneur, tapi hanya melahirkan manusiaberpengetahuan kewirausahaan. Justru yang harus diperbanyak porsitindakan atau motorik, termasuk lokasi pendidikan diciptakan untukmerndukung suasana motorik.
Rhenald menyayangkan banyak suasana kampus hanya bernuansa otaksaja, seperti poster atau ruangan laboratorium dan diskusi.Sebaiknya kampus dibuat kedai-kedai mahasiswa atau bengkel-bengkeluntuk mahasiswa berpraktik. Jadi misalnya bengkel di FakultasTeknik serahkan kepada mahasiswanya yang mereka boleh hancurkan dantemukan, cari modal sendiri, tambahkan modal. Begitu juga difakultas lainnya. Pokoknya semuanya serahkan kepada mahasiswa,tegasnya.
Ia mencontohkan areal kampus yang luas sebenarnya memberikankesempatan bagi mahasiswa untuk menggelar jualan mereka pada HariSabtu dan Minggu di saat banyak mahasiswa lain tengahjogging.



http://www.depkominfo.go.id/berita/bipnewsroom/enterpreneur-tak-terbentuk-hanya-dari-pengajaran/